KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi dan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah menaruh perhatian kepada korban gempa flores.
Dia mengakui, sejak hari pertama gempa bumi Flores pada 15 Agustus 2026 banyak pihak yang bergerak membantu masyarakat terdampak.
Menurut Melki Laka Lena, perhatian kepada korban gempa tidak hanya datang dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah di NTT, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, relawan, tokoh agama, media hingga masyarakat NTT yang berada di luar daerah dan luar negeri.
Ungkapan apresiasi dan terima kasih itu diutarakan Gubernur NTT Melki Laka Lena di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Senin 31 Agustus 2026.
“Atas nama Pemerintah dan seluruh masyarakat NTT, saya, menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bergandengan tangan membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa bumi di Flores,” ujar Melki Laka Lena.
Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi khusus kepada Presiden dan Wakil Presiden RI beserta jajaran pemerintah pusat, kementerian dan lembaga, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, Polri, serta seluruh unsur pemerintahan yang menurut dia terus hadir di lapangan sejak gempa Flores terjadi.
Dia mengakui bahwa penanganan bencana di Flores membutuhkan kerja bersama karena dampak gempa tidak hanya menyentuh satu sektor.
“Terima kasih kepada seluruh pemerintah kabupaten terdampak, para bupati dan wakil bupati, jajaran BPBD, tenaga kesehatan, aparat desa dan kelurahan, serta seluruh perangkat pemerintahan yang tidak mengenal lelah melayani masyarakat,” ujarnya.
Gubernur NTT juga mengapresiasi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota dari luar NTT yang turut mengirimkan bantuan untuk masyarakat Flores.
Ia mengakui bahwa bantuan tersebut tidak hanya berupa logistik, tetapi juga personel, tenaga kesehatan dan berbagai bentuk dukungan lainnya.
Baginya, solidaritas lintas daerah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana merupakan persoalan kemanusiaan yang melampaui batas wilayah administrasi.
“Kepedulian antardaerah ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi bencana, kita adalah satu keluarga besar Indonesia,” katanya.
“Flores sedang berduka. Tetapi Flores tidak sendiri. NTT tidak sendiri. Indonesia hadir dan bergerak bersama,” kata Melki.
Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat.
Menurut Melki, seluruh pihak perlu tetap bergandengan tangan hingga masyarakat Flores memasuki tahap pemulihan dan pembangunan kembali.
Melki meminta solidaritas yang telah terbentuk sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026 terus dipertahankan sampai proses pemulihan selesai.
Ia menekankan bahwa kebutuhan masyarakat terdampak tidak berakhir ketika masa tanggap darurat selesai.
Karena itu, dukungan berbagai pihak diperlukan untuk membantu masyarakat kembali menjalani kehidupan dan membangun kembali wilayah yang terdampak.
“Mari kita terus bergandengan tangan. Bukan hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga sampai proses pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan masyarakat Flores dapat kita selesaikan bersama,” ujarnya.*